1 Des 2021

Bromo: view point sunrise

Kalau ada satu hal yang harus gue pelajari dari perjalanan ini, itu adalah pentingnya riset. Karena jujur aja, rencana gue kali ini lebih mirip keputusan impulsif daripada ekspedisi yang penuh persiapan. Tapi di situlah serunya. Gue nggak cuma belajar tentang alam, tapi juga belajar tentang kesalahan yang harusnya nggak gue ulangi.

Awalnya, gue punya niat baik. Gladi resik dulu sebelum naik gunung tertinggi di Jawa Tengah nanti. Pilihan jatuh ke Penanjakan 1 Bromo. Karena gue pikir, suhu dingin di atas sana cocok banget buat nguji fisik dan mental gue. Tapi ternyata, rencana mulia gue nggak dibarengi persiapan yang cukup.

Rencana awalnya berangkat bertiga bareng temen. Tapi mendadak mereka kabarin batal ikut. Alasannya nggak jelas, cuma bilang, “Lagi nggak mood.” Lah, ini kan bukan ngedate, Anj. Akhirnya, gue harus jadi single fighter. Gue pikir, “Ah, santai. Gue bisa handle.” 

Gue start dari Malang pukul 02.00 pagi. Rutenya: Malang - Kedungrejo - Sugro - Wonokriti - Penanjakan 1.

(Rute Kota Malang - Penanjakan 1 View Point Sunrise)

Awalnya lancar, jalan aspal mulus ditemenin perumahan warga. Musik di earphone ngiringin perjalanan, Maps juga lancar. Tapi begitu masuk Sugro...

Gue seperti ketemu “raja terakhir” dari segala jenis jalan: kabut tebal, tikungan tajam, dan pemandangan gelap gulita. Sinyal mulai ilang-muncul kayak iklan popup situs film bajakan, dan Maps mulai kehilangan arah. Musik mati mendadak. Earphone gue cuma jadi aksesori telinga tanpa fungsi.

Jam 02.30, gue mulai naik ke Sugro. Pemukiman udah nggak ada. Gantinya sawah, pohon bambu besar nan tinggi, dan jalanan menanjak yang nggak kelihatan ujungnya. Kabut makin parah, pandangan gue cuma dua meter ke depan. Setiap tikungan, gue cuma bisa nebak-nebak, “Ini beneran jalan atau gue masuk ke set film horor?”

Lalu ada momen di mana logika gue diuji. Ketakutan sama makhluk halus mulai muncul, tapi gue sadar: yang lebih serem adalah manusia jahat. Gue terus nyetir sambil berpikir, “Kalau ada yang cegat gue di sini, gue tabrak aja kali ya. Mau manusia atau setan, sama-sama nyusahin.”

Ada satu tikungan tajam yang bikin bulu kuduk gue berdiri. Gue lewat jembatan kecil yang diapit kabut tebal. Suara motor gue sendiri terdengar lebih nyaring, seolah menggema di tengah hutan. Musik di earphone tetep nggak nyala, jadi gue cuma ditemenin suara mesin dan doa darurat.

(lokasi-nya di Siang hari)

Gue udah pasrah, cuma berharap motor gue nggak mati mendadak. Kalau itu terjadi, tamat riwayat gue. Tapi untungnya, setelah 30 menit melewati kabut dan jalanan mistis, gue akhirnya lihat lampu rumah warga. Rasanya kayak pegen joget sambil di iringi lagu-nya The Queen - We Are the Champions.

Pukul 03.30, gue sampai Wonokriti. Suara adzan subuh mulai terdengar, bikin hati gue sedikit tenang. Gue berhenti di warung kecil, pesan kopi panas, dan ngobrol sama beberapa orang yang juga mau ngejar sunrise.

Di warung ini pula gue beli tiket masuk, berhubung beli online selalu habis jadi gue harus beli dari calo, 35 ribu. Aslinya sih cuma 30 ribu kalau online, ya selisih 5 ribu doang mah murah lah.

Kemudian lanjut naik ke Penanjakan 1 setelah memasuki Pos Jemplang Bromo, suhu makin sadis. 5°C!! Kupluk, sarung tangan, dan jaket tebal jadi penyelamat gue. Dan akhirnya, gue sampai di puncak tepat sebelum sunrise.

Langit gelap pelan-pelan berubah jadi jingga, lalu emas. Indah banget. Semua drama di Sugro—kabut, tikungan, perasaan mau nangis, bahkan ketakutan ketemu begal dan pocong—langsung hilang. Gue cuma bisa tersenyum sambil bilang, “Ini semua worth it.”

Dan di momen itu, gue sadar satu hal: hidup lo nggak akan pernah datar kalau lo berani nekat dan sedikit bodo.

Share: